Bisnis Ritel atau eceran kini semakin berkembang seiring dengan kemajuan tekhnologi informasi. Perkembangan ini tentu saja harus dibarengi dengan kesiapan sumber daya manusia yang terlibat dalam pengelolaan entitas bisnis ritel – baik owner mau pun para pegawainya. Bila dulu bisnis ritel banyak dikelola secara tradisional dengan manajemen keluarga yang tidak tertata sedemikian rupa, maka sekarang hal itu sudah banyak ditinggalkan. Entitas bisnis ritel berkembang dengan dukungan perangkat tekhnologi informasi.
Konsekwensi logisnya maka dalam berbisnis ritel tidak lagi mudah untuk dilakukan bagi sebagian orang. Jika pun masih bisa dilakukan hanya sekedarnya saja sebagai entitas bisnis ritel tradisional. Untuk menuju bisnis ritel modern diperlukan kemampuan pengelolaan yang tidak mudah karena berbasis tekhnologi informasi. Mulai dari pemesanan barang dagangan (merchandiser) sampai pada stock ofname. Bila kita masih mengelola bisnis ritel secara tradisional maka lambat laun akan ditinggalkan para pelanggan. Hal ini sudah terbukti pada entitas bisnis ritel toko kelontong tradisional yang sekarang sudah tergantikan dengan maraknya perkembangan mini market baik yang dikelola secara waralaba mau pun secara mandiri.
Ikuti Perkembangan
Keterkaitan dengan itu maka secara alamiah akan terjadi pada entitas bisnis ritel lainnya yang masih dikelola secara tradisional. Ambil contoh dahulu toko bahan bangunan atau yang lebih dikenal dengan sebutan toko material dikelola secara tradisional, sekarang entitas bisnis ritel sejenis sudah banyak menjamur yang dikelola secara modern dengan sentuhan tekhnologi informasi. Sebut saja dengan kehadiran Depo Bangunan, Mitra 10, dan masih banyak lagi entitas bisnis ritel sejenis yang didirikan secara modern.
Bagi para pelaku bisnis ritel yang saat ini masih mengelola gerainya dengan manajamen keluarga yang tradisional maka mau tidak mau, rela atau tidak rela harus segera mengikuti perkembangan zaman. Perkembangan zaman tidak saja terkait dengan kemajuan tekhnologi tetapi juga erat kaitannya dengan perubahan issue sentral dalam bidang bisnis ritel.
Akibatnya entitas bisnis ritel tradisional yang dalam berbagai hal sangat miskin inovasi akan selalu tertinggal dalam merebut pangsa pasar yang ada. Oleh karenanya para pelaku bisnis ritel tradisional harus segera merubah pola pikir dan orientasi menuju entitas bisnis ritel modern bila tidak menginginkan kematian atas entitas bisnis yang selama ini digelutinya. Kader terbaiknya dalam mengelola entitas bisnis selama ini harus segera diberikan kesempatan / beasiswa untuk mengikuti pendidikan /kursus /workshop/lokakarya dan sejenisnya yang berkaitan dengan pengelolaan bisnis ritel modern.
Tata Pengelolaan
Tata pengelolaan bisnis ritel tradisional sangat berbeda dengan yang dilakukan ritel modern. Mungkin istilah standar operasional pun masih terdengar aneh di telinga para pebisnis tradisional. Apalagi diterapkannya secara konsisten dan berkesinambungan. Misalnya jam buka toko bagi entitas bisnis ritel modern sudah terjadwals edemikian rupa, maka pada entitas bisni ritel tradisional dalam membuka dan menutup toko semaunya saja. Tergantung dari kepentingan para pemilik. Begitu pun dengan hari libur toko tentu saja sangat tergantung dari keperluan para pemilik toko.
Pentingnya standar operasional bagi entitas bisnis ritel adalah untuk mengupayakan terjaminnya kepercayaan dalam diri pelanggan pada entitas bisnis yang kita jalankan. Tentu saja hal ini akan sulit diterapkan bagi entitas bisnis ritel tradisional karena dari berbagai factor tidak mendukung adanya system yang memiliki konsistensi terhadap operasional bisnis. Bila sudah demikian maka banyak ragam yang dikeluhkan para konsumen yang sudah terbiasa melakukan transaksi di entitas bisnis ritel modern.
Banyak hal yang bisa kita diskusikan dalam wacana masa transisi menuju revolusi industi ritel di pelosok nusantara. Mulai dari aspek sumber daya manusia, aspek pengelolaan keuangan, aspek pemasaran, sampai pada aspek operasional bisnis ritel. Seiring dengan itu tentu saja kita berharap agar warga bangsa yang saat ini sebagai pelaku bisnis ritel tradisional sejatinya harus sudah memahami kondisi riil yang sedang terjadi dan yang akan dihadapi dalam waktu cepat atau lambat.
*) penulis buku Kiat Sukses Mengelola Bisnis Mini Market, Indonesia Cerdas, 2007.


No comments:
Post a Comment